Secangkir teh yang ku nikmati dan secangkir kopi yang kau seruput dibibirmu yang serupa belati. Yah, bibirmu begitu tajam ketika mengumbar janji-janji. Kau pikir seseorang yang kau beri janji tak bisa mengingatnya. Akan terasa sakit jika kau berpura-pura bodoh dan tak tahu.
Lidah dan ucapan janji-janjimu sama tajamnya seperti ujung tobak yang siap dilemparkan untuk menusuk dada lawan. Sakitnya pasti bukan main.
Beberapa arah langkah yang kau tunjukkan untuk mengusirku dari hadapanmu. Gema duga yang ku lakukan untuk mengukur tatapan mata bulatmu yang eksotis itu; adakah cinta atau hanya ada rumor luka.
Kau tahu Pluto? Dia tak lagi dianggap sebagai bagian dari planet di tata surya kita ini. Walaupun begitu, eksistensinya masih tetap ada. Sepertinya aku pun sama seperi pluto. Walau sudah kau bersihkan dalam pikiran dan kesadaranmu. Sejuta tahun cahaya sekalipun akan tetap membekas di hati.
Mlihatmu dari kejauhan membuatku tersadar akan beberapa hal; sampai kapankah aku terus mengejar janji-janji yang kau umbar. Kau sudah mengambil semua rasaku dan sekarang hanya hambarlah yang silih ganti berdatangan.
Oh, ya. Jika kau ingin kembali merasakan kegembiraan dan menghangatkan diri dari derasnya hujan. Kemarilah, aku masih membukakan pintu untukmu; berteduhlah, hangatkan dirimu dipelukanku dan sejenak menikmati segelas coklat panas—agar kau tak kedinginan dan bersikap dingin lagi.
Tudung semesta masih melindungiku dalam seringnya mengembara di antara janji-janjimu. Angkasa pernah berkata kepadaku; "Hei, jiwa yang rapuh nan keruh. Semoga kau baik-baik saja. Ingat, kembalilah dengan sejuta bahagia—jangan sampai kembali bersama goresan dan sayatan di dada."

Relate-able tulisanmu kali ini Nuh, haha. As always. Love it~~~ keep writing! :)
BalasHapus