Langkah kakiku kian melemah saat mengetahuimu sedang mengumandangkan rasa bersama dia. Kau mungkin tak akan pernah merasakan jerebu tebal yang timbul dikepala dan hatiku akibat kau bakar dengan api cemburu. Terbatuk-batuk dan sesak sekali rasanya. Haruskah aku menggunakan masker agar tak menghirup jerebuku sendiri? Kiranya akan tetap sama saja.
Waktu yang berbutar sangat cepat. Dan kini luka yang ku terima semakin banyak dan melekat. Oh, semesta ijinkan ku saja sebentar untuk berkeluh kesah. Agar sedikit berdamai dengan gelisah. Tak usah kau banggakan atas jeruji besi yang kau beri. Itu hanya penimbul perih dan jerit tagis tiada henti.
Maaf jika sikapku ini terlalu hiperbola. Kau tahu kan roda motor atau mobil? Yah, jika mereka terus bergesekan dengan aspal akan menipiskan ban itu sendiri, begitu juga denganku semakin kau sakiti semakin juga mengurang rasa cinta ini. Sebab, cinta tentang mereka yang salin menerima apa adanya—bukan mereka yang harus saling sama sempurnanya. Ingat cinta itu tumbuh bersama, bukan beradu asa dan kepala.
Di sini, aku banyak belajar darimu. Semacam luka yang diberi memang harusnya diterima—untuk bahan kontemplasi kedepannya. Dan tak asal menebar kebingungan dan segala prasangka.
Tumbuh bersama luka itu sangat menyemangati dada dan kembali menumbuhkan benih-benih bangga. Langkah selanjutnya ialah bagaimana aku harus bisa belajar dari modul-modul derita yang dulu kau beri. Supaya tak lagi terjelembab di sidang patah hati.
Luka itu mengajarkanmu agar bisa berkembang juga maju terus ke depan dan tidak hanya stagnan. Sesekali boleh melihat ke belakang—berilah lambaian tangan bahwa sekarang kamu sudah lebih kuat dan dewasa dari sebelum-sebelumnya.
Jangan mau terus-terusan disakiti oleh luka dan duka. Berilah juga mereka pelajaran agar tak lagi membuatmu jatuh dan suram.

Komentar
Posting Komentar