Langsung ke konten utama

Tumbuh Bersama Luka

 

 


 

Langkah kakiku kian melemah saat mengetahuimu sedang mengumandangkan rasa bersama dia. Kau mungkin tak akan pernah merasakan jerebu tebal yang timbul dikepala dan hatiku akibat kau bakar dengan api cemburu. Terbatuk-batuk dan sesak sekali rasanya. Haruskah aku menggunakan masker agar tak menghirup jerebuku sendiri? Kiranya akan tetap sama saja.                                                                          

Waktu yang berbutar sangat cepat. Dan kini luka yang ku terima semakin banyak dan melekat. Oh, semesta ijinkan ku saja sebentar untuk berkeluh kesah. Agar sedikit berdamai dengan gelisah. Tak usah kau banggakan atas jeruji besi yang kau beri. Itu hanya penimbul perih dan jerit tagis tiada henti.

Maaf jika sikapku ini terlalu hiperbola. Kau tahu kan roda motor atau mobil? Yah, jika mereka terus bergesekan dengan aspal akan menipiskan ban itu sendiri, begitu juga denganku semakin kau sakiti semakin juga mengurang rasa cinta ini. Sebab, cinta tentang mereka yang salin menerima apa adanya—bukan mereka yang harus saling sama sempurnanya. Ingat cinta itu tumbuh bersama, bukan beradu asa dan kepala.

Di sini, aku banyak belajar darimu. Semacam luka yang diberi memang harusnya diterima—untuk bahan kontemplasi kedepannya. Dan tak asal menebar kebingungan dan segala prasangka.

Tumbuh bersama luka itu sangat menyemangati dada dan kembali menumbuhkan benih-benih bangga. Langkah selanjutnya ialah bagaimana aku harus bisa belajar dari modul-modul derita yang dulu kau beri. Supaya tak lagi terjelembab di sidang patah hati.

Luka itu mengajarkanmu agar bisa berkembang juga maju terus ke depan dan tidak hanya stagnan. Sesekali boleh melihat ke belakang—berilah lambaian tangan bahwa sekarang kamu sudah lebih kuat dan dewasa dari sebelum-sebelumnya.

 

Jangan mau terus-terusan disakiti oleh luka dan duka. Berilah juga mereka pelajaran agar tak lagi membuatmu jatuh dan suram.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengembara Janji

    Secangkir teh yang ku nikmati dan secangkir kopi yang kau seruput dibibirmu yang serupa belati. Yah, bibirmu begitu tajam ketika mengumbar janji-janji. Kau pikir seseorang yang kau beri janji tak bisa mengingatnya. Akan terasa sakit jika kau berpura-pura bodoh dan tak tahu. Lidah dan ucapan janji-janjimu sama tajamnya seperti ujung tobak yang siap dilemparkan untuk menusuk dada lawan. Sakitnya pasti bukan main. Beberapa arah langkah yang kau tunjukkan untuk   mengusirku dari hadapanmu. Gema duga yang ku lakukan untuk mengukur tatapan mata bulatmu yang eksotis itu; adakah cinta atau hanya ada rumor luka. Kau tahu Pluto? Dia tak lagi dianggap sebagai bagian dari planet di tata surya kita ini. Walaupun begitu, eksistensinya masih tetap ada. Sepertinya aku pun sama seperi pluto. Walau sudah kau bersihkan dalam pikiran dan kesadaranmu. Sejuta tahun cahaya sekalipun akan tetap membekas di hati. Mlihatmu dari kejauhan membuatku tersadar akan beberapa hal; sampai ka...

Usaha Meluluhkanmu

  Segala usaha yang aku lakukan untuk meluluhkan hatimu sangat tak mudah. Tak jarang setiap caraku selalu membuat diriku gundah.  Harusnya aku sadar. Jawaban yang kau lontarkan ialah kata “bukan, kau orang yang harus aku cintai”. Hati memanglah sesak dan terisak. Pelupuk mataku pun terasa perih sebab banyak penolakan yang kau beri. Kau tak pernah bisa menghargai setiap usaha yang aku beri. Aku selalu lupa diri—memang sebenarnya kau itu serupa kunti yang ingin terus menusukkan belati ke dalam hati. Sudah ku kunci rapat-rapat, tetap saja rasa sakit tak bisa kau umpat. Setangkai bunga mawar pernah kuberi kau injak begitu saja. 10 batang coklat yang kuberi pun kau tinggalkan saja di ujung kursi. Aku bingung sebenarnya kau tahu atau tidak caranya untuk berterima kasih. Hatiku ini selalu berusaha untuk tegar. Walau sebenarnya sudah berkali-kali kau tampar dengan segala sikap dinginmu. Ah, sial sekali rasanya. Bukankah setiap orang yang menyatakan cinta; setidaknya anggaplah keberada...