Segala usaha yang aku lakukan untuk meluluhkan hatimu sangat tak mudah. Tak jarang setiap caraku selalu membuat diriku gundah.
Harusnya aku sadar. Jawaban yang kau lontarkan ialah kata “bukan, kau orang yang harus aku cintai”. Hati memanglah sesak dan terisak. Pelupuk mataku pun terasa perih sebab banyak penolakan yang kau beri.
Kau tak pernah bisa menghargai setiap usaha yang aku beri. Aku selalu lupa diri—memang sebenarnya kau itu serupa kunti yang ingin terus menusukkan belati ke dalam hati. Sudah ku kunci rapat-rapat, tetap saja rasa sakit tak bisa kau umpat.
Setangkai bunga mawar pernah kuberi kau injak begitu saja. 10 batang coklat yang kuberi pun kau tinggalkan saja di ujung kursi. Aku bingung sebenarnya kau tahu atau tidak caranya untuk berterima kasih.
Hatiku ini selalu berusaha untuk tegar. Walau sebenarnya sudah berkali-kali kau tampar dengan segala sikap dinginmu. Ah, sial sekali rasanya. Bukankah setiap orang yang menyatakan cinta; setidaknya anggaplah keberadaanya. Bukannya malah kau acuhkan dan dihujani penderitaan yang sedikit menimbulkan kekesalan.
Mungkin mulai dari sekarang sampai seterusnya aku akan mencoba untuk tetap kuat dan menerima segala perlakuan yang engkau berikan. Sekalipun itu harus membuat hatiku menjadi tanggal dan hancur berantakan. Sebab disetiap perjuangan yang tulus akan ada hasil yang selalu mulus.
Akupun bukanlah SuperMan yang selalu diidam-idamkan oleh banyak perempuan—karena sebuah laser yang bisa melelehkan setiap hati perempuan yang menatapnya. Kalaupun aku dianugerahkan kekuatan super semacam itu oleh Tuhan. Aku hanya ingin kau saja yang menatapku, mengagumiku dan mencintaiku. Karena bagiku, mendapatkan sebuah balasan darimu amatlah susah. Makanya aku berharap seperti itu padamu.
Temukanlah cara terbaik untuk meluluhkan. Jangan sampai terjebak dengan cara terbalik yang malah melumpuhkan.
Mendapatkanmu, sama saja seperti memancing ikan di langit. Mustahil...
BalasHapus