Langsung ke konten utama

Usaha Meluluhkanmu

 



Segala usaha yang aku lakukan untuk meluluhkan hatimu sangat tak mudah. Tak jarang setiap caraku selalu membuat diriku gundah. 

Harusnya aku sadar. Jawaban yang kau lontarkan ialah kata “bukan, kau orang yang harus aku cintai”. Hati memanglah sesak dan terisak. Pelupuk mataku pun terasa perih sebab banyak penolakan yang kau beri.

Kau tak pernah bisa menghargai setiap usaha yang aku beri. Aku selalu lupa diri—memang sebenarnya kau itu serupa kunti yang ingin terus menusukkan belati ke dalam hati. Sudah ku kunci rapat-rapat, tetap saja rasa sakit tak bisa kau umpat.

Setangkai bunga mawar pernah kuberi kau injak begitu saja. 10 batang coklat yang kuberi pun kau tinggalkan saja di ujung kursi. Aku bingung sebenarnya kau tahu atau tidak caranya untuk berterima kasih.

Hatiku ini selalu berusaha untuk tegar. Walau sebenarnya sudah berkali-kali kau tampar dengan segala sikap dinginmu. Ah, sial sekali rasanya. Bukankah setiap orang yang menyatakan cinta; setidaknya anggaplah keberadaanya. Bukannya malah kau acuhkan dan dihujani penderitaan yang sedikit menimbulkan kekesalan.

Mungkin mulai dari sekarang sampai seterusnya aku akan mencoba untuk tetap kuat dan menerima segala perlakuan yang engkau berikan. Sekalipun itu harus membuat hatiku menjadi tanggal dan hancur berantakan. Sebab disetiap perjuangan yang tulus akan ada hasil yang selalu mulus.

Akupun bukanlah SuperMan yang selalu diidam-idamkan oleh banyak perempuan—karena sebuah laser yang bisa melelehkan setiap hati perempuan yang menatapnya. Kalaupun aku dianugerahkan kekuatan super semacam itu oleh Tuhan. Aku hanya ingin kau saja yang menatapku, mengagumiku dan mencintaiku. Karena bagiku, mendapatkan sebuah balasan darimu amatlah susah. Makanya aku berharap seperti itu padamu.

Temukanlah cara terbaik untuk meluluhkan. Jangan sampai terjebak dengan cara terbalik yang malah melumpuhkan.

Komentar

  1. Mendapatkanmu, sama saja seperti memancing ikan di langit. Mustahil...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengembara Janji

    Secangkir teh yang ku nikmati dan secangkir kopi yang kau seruput dibibirmu yang serupa belati. Yah, bibirmu begitu tajam ketika mengumbar janji-janji. Kau pikir seseorang yang kau beri janji tak bisa mengingatnya. Akan terasa sakit jika kau berpura-pura bodoh dan tak tahu. Lidah dan ucapan janji-janjimu sama tajamnya seperti ujung tobak yang siap dilemparkan untuk menusuk dada lawan. Sakitnya pasti bukan main. Beberapa arah langkah yang kau tunjukkan untuk   mengusirku dari hadapanmu. Gema duga yang ku lakukan untuk mengukur tatapan mata bulatmu yang eksotis itu; adakah cinta atau hanya ada rumor luka. Kau tahu Pluto? Dia tak lagi dianggap sebagai bagian dari planet di tata surya kita ini. Walaupun begitu, eksistensinya masih tetap ada. Sepertinya aku pun sama seperi pluto. Walau sudah kau bersihkan dalam pikiran dan kesadaranmu. Sejuta tahun cahaya sekalipun akan tetap membekas di hati. Mlihatmu dari kejauhan membuatku tersadar akan beberapa hal; sampai ka...

Tumbuh Bersama Luka

      Langkah kakiku kian melemah saat mengetahuimu sedang mengumandangkan rasa bersama dia. Kau mungkin tak akan pernah merasakan jerebu tebal yang timbul dikepala dan hatiku akibat kau bakar dengan api cemburu. Terbatuk-batuk dan sesak sekali rasanya. Haruskah aku menggunakan masker agar tak menghirup jerebuku sendiri? Kiranya akan tetap sama saja.                                                                            Waktu yang berbutar sangat cepat. Dan kini luka yang ku terima semakin banyak dan melekat. Oh, semesta ijinkan ku saja sebentar untuk berkeluh kesah. Agar sedikit berdamai dengan gelisah. Tak usah kau banggakan atas jeruji besi yang kau beri. Itu hanya penimbul perih dan jerit tagis tiada henti. Maaf jika sikapku ini terlalu hiperbola. Kau tahu kan roda motor ...