Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

Kau Datang Untuk Istirahat, Bukan Menetap

  Memang sudah dasarnya sifat manusia itu menyakiti lalu meninggalkan. Berharap seperti gigi yang telah di tanggalkan; lalu di taruh dibawah bantal agar bisa di ambil oleh Peri gigi dan diberikan hadiah oleh sang peri. Dan yang aku inginkan juga seperti itu. Ketika aku menanggalkan setiap luka. Lalu, kau datang membawa hadiah yaitu cinta sebagai gantinya. Walaupun aku tahu berhalusinasi seperti itu hanya membuang semua energiku saja. Membuang-buang waktu yang telah Tuhan berikan kepadaku, untuk digunakan dengan sebaik-baiknya. Kau memang hadir dan singgah dalam hidupku. Perihal kau ingin menetap atau tidak denganku—aku tidak tahu. Tapi, aku selalu menghadiahkan angkasa dengan do’a-do’a yang semoga dapat mempersatukan kita. Kedatanganmu benar-benar merubah hidupku yang sangat murung dan suram. Aku dengan percaya diri menghampirimu agar bisa kau jadikan—dambaan hati. Walaupun aku tak tahu; bahwa sebenarnya kau risih akan hadirnya aku di sisimu. Kemarilah, kau bersikap seperti itu—kar...

Usaha Meluluhkanmu

  Segala usaha yang aku lakukan untuk meluluhkan hatimu sangat tak mudah. Tak jarang setiap caraku selalu membuat diriku gundah.  Harusnya aku sadar. Jawaban yang kau lontarkan ialah kata “bukan, kau orang yang harus aku cintai”. Hati memanglah sesak dan terisak. Pelupuk mataku pun terasa perih sebab banyak penolakan yang kau beri. Kau tak pernah bisa menghargai setiap usaha yang aku beri. Aku selalu lupa diri—memang sebenarnya kau itu serupa kunti yang ingin terus menusukkan belati ke dalam hati. Sudah ku kunci rapat-rapat, tetap saja rasa sakit tak bisa kau umpat. Setangkai bunga mawar pernah kuberi kau injak begitu saja. 10 batang coklat yang kuberi pun kau tinggalkan saja di ujung kursi. Aku bingung sebenarnya kau tahu atau tidak caranya untuk berterima kasih. Hatiku ini selalu berusaha untuk tegar. Walau sebenarnya sudah berkali-kali kau tampar dengan segala sikap dinginmu. Ah, sial sekali rasanya. Bukankah setiap orang yang menyatakan cinta; setidaknya anggaplah keberada...

Tumbuh Bersama Luka

      Langkah kakiku kian melemah saat mengetahuimu sedang mengumandangkan rasa bersama dia. Kau mungkin tak akan pernah merasakan jerebu tebal yang timbul dikepala dan hatiku akibat kau bakar dengan api cemburu. Terbatuk-batuk dan sesak sekali rasanya. Haruskah aku menggunakan masker agar tak menghirup jerebuku sendiri? Kiranya akan tetap sama saja.                                                                            Waktu yang berbutar sangat cepat. Dan kini luka yang ku terima semakin banyak dan melekat. Oh, semesta ijinkan ku saja sebentar untuk berkeluh kesah. Agar sedikit berdamai dengan gelisah. Tak usah kau banggakan atas jeruji besi yang kau beri. Itu hanya penimbul perih dan jerit tagis tiada henti. Maaf jika sikapku ini terlalu hiperbola. Kau tahu kan roda motor ...