Memang sudah dasarnya sifat manusia itu menyakiti lalu meninggalkan. Berharap seperti gigi yang telah di tanggalkan; lalu di taruh dibawah bantal agar bisa di ambil oleh Peri gigi dan diberikan hadiah oleh sang peri. Dan yang aku inginkan juga seperti itu. Ketika aku menanggalkan setiap luka. Lalu, kau datang membawa hadiah yaitu cinta sebagai gantinya.
Walaupun aku tahu berhalusinasi seperti itu hanya membuang semua energiku saja. Membuang-buang waktu yang telah Tuhan berikan kepadaku, untuk digunakan dengan sebaik-baiknya.
Kau memang hadir dan singgah dalam hidupku. Perihal kau ingin menetap atau tidak denganku—aku tidak tahu. Tapi, aku selalu menghadiahkan angkasa dengan do’a-do’a yang semoga dapat mempersatukan kita.
Kedatanganmu benar-benar merubah hidupku yang sangat murung dan suram. Aku dengan percaya diri menghampirimu agar bisa kau jadikan—dambaan hati. Walaupun aku tak tahu; bahwa sebenarnya kau risih akan hadirnya aku di sisimu. Kemarilah, kau bersikap seperti itu—karena kau belum terlalu dalam mengenaliku dan aku memakluminya.
Aku hadir—untuk menjadi rumahmu; disaat lelah menghujat, semesta yang sedang tak ingin bersahabat. Pintu rumah ini terbuka lebar untukmu—dan hanya untukmu.
Komentar
Posting Komentar