Langsung ke konten utama

Arti Salas

 

 

 

 


 

Cuaca di pagi pertama di bulan Desember sangat sejuk. Tidak ada sinar matahari ataupun awan mendung yang bergelayutan di langit putih kusam. Salas seorang perempuan berusia 47 tahun itu sedang menunggu tukang sayur dengan dibawa gerobak yang biasa lewat di depan gang rumahnya itu. Sambil menunggu tukang sayur itu lewat—Salas duduk di lantai teras rumahnya sembari menyemil kerupuk putih sisa semalam dan teh jati cina yang ia dapatkan dari tetangganya Bu Mantra.

Salas sendiri merupakan seorang perempuan yang menggantungkan hirup dan hidupnya dengan bekerja sebagai petani. Ya, petani yang mengolah sawah orang lain dan bukan miliknya sendiri. terkadang ia pun sesekali mengambil pekerjaan sampingan dengan mengangon kambing milik Pak Campu yang merupakan kuwu di desanya. Yang mana ia dijanjikan akan diberi satu ekor anak kambing—jika dari 11 ekor kambing yang diangonnya itu ada yang melahirkan. Dengan menjalankan dua pekerjaan itulah Salas bisa menafkahi hidup satu keponakan laki-lakinya yang berusia 11 tahun dan dirinya sendiri.

Sudah ada tiga kerupuk yang dihabiskan oleh Salas, tapi tukang sayur masih belum juga lewat di depan rumahnya itu. Beberapa kali seruputan dari teh jati cina hangat yang hangat itu masuk ke dalam tubuhnya. Sejenak menimbulkan banyak tanya yang mulai berkeliaran dan beranak-pinak di dalam kepalanya.

Mau sampai kapan hidupku miskin seperti ini terus?

Katanya Tuhan itu maha adil? Pekerjaanku jauh lebih keras dan menguras banyak keringat—tapi kenapa tidak ada kata sukses dalam kamus nasib hidupku?

Seberapa besar takaran sabar yang harus aku perlebar lagi untuk menampung hidup yang sangat kunyuk dan bajingan ini?

Aku bosan dengan kalimat ‘bahwa sabar itu tak ada batasnya!’Aku tahu dan melihat dengan mata kepalaku sendiri—bahwa manusia-manusia kunyuk yang mengatakan kalimat itu adalah mereka yang hidupnya dilimpahi kekayaan dan kesempurnaan hidup yang tidak mengharuskan mereka untuk menggunakan jatah sabar untuk hati mereka. Aku sangat yakin sekali, jika sejak lahir mereka tidak dibedong oleh kekayaan dan kesempurnaan hidup dari kedua orang tuanya—mereka akan mengatakan hal yang sama seperti yang aku katakan sekarang ini. Persetan memang untuk mereka!!!

Bangsat! Aku jadi teringat dengan sesosok laki-laki yang usianya kira-kira selisih lima tahun lebih tua dariku yang kutemui di pasar pagi kemarin dan dengan mudahnya ia berkata “Kamu harus bisa lebih sabar dari kata sabar itu sendiri dan kamu juga harus lebih ikhlas dari kata ikhlas itu sendiri.”

AAAAAAHHHHH!!!! SETAN! ANJING! BABI! KUNYUK! BANGSAT! BAJINGAN! SETAN ALAS! KOPLOK! Dasar aki-aki tidak tahu diuntung! Ringan sekali lidahnya mengatakan itu di depanku dengan setelan pakaian rapih berjas dan juga dasi sembari membawa mobil sedan keluaran terbaru itu. BIADAB KAU BAJINGAN TUA!!! Awas saja kau, kalau kita bertemu lagi, akan kulibas habis lidahmu itu.

“Permisi, Bu Las, jadi mau beli sayur tidak? Dari tadi saya panggil kok diam saja” ucap tukang sayur yang sedari tadi sudah melipir di depan rumahnya itu.

“Eh, iya, Pak. Jadi-jadi.”

 

 

- Bersambung -

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengembara Janji

    Secangkir teh yang ku nikmati dan secangkir kopi yang kau seruput dibibirmu yang serupa belati. Yah, bibirmu begitu tajam ketika mengumbar janji-janji. Kau pikir seseorang yang kau beri janji tak bisa mengingatnya. Akan terasa sakit jika kau berpura-pura bodoh dan tak tahu. Lidah dan ucapan janji-janjimu sama tajamnya seperti ujung tobak yang siap dilemparkan untuk menusuk dada lawan. Sakitnya pasti bukan main. Beberapa arah langkah yang kau tunjukkan untuk   mengusirku dari hadapanmu. Gema duga yang ku lakukan untuk mengukur tatapan mata bulatmu yang eksotis itu; adakah cinta atau hanya ada rumor luka. Kau tahu Pluto? Dia tak lagi dianggap sebagai bagian dari planet di tata surya kita ini. Walaupun begitu, eksistensinya masih tetap ada. Sepertinya aku pun sama seperi pluto. Walau sudah kau bersihkan dalam pikiran dan kesadaranmu. Sejuta tahun cahaya sekalipun akan tetap membekas di hati. Mlihatmu dari kejauhan membuatku tersadar akan beberapa hal; sampai ka...

Usaha Meluluhkanmu

  Segala usaha yang aku lakukan untuk meluluhkan hatimu sangat tak mudah. Tak jarang setiap caraku selalu membuat diriku gundah.  Harusnya aku sadar. Jawaban yang kau lontarkan ialah kata “bukan, kau orang yang harus aku cintai”. Hati memanglah sesak dan terisak. Pelupuk mataku pun terasa perih sebab banyak penolakan yang kau beri. Kau tak pernah bisa menghargai setiap usaha yang aku beri. Aku selalu lupa diri—memang sebenarnya kau itu serupa kunti yang ingin terus menusukkan belati ke dalam hati. Sudah ku kunci rapat-rapat, tetap saja rasa sakit tak bisa kau umpat. Setangkai bunga mawar pernah kuberi kau injak begitu saja. 10 batang coklat yang kuberi pun kau tinggalkan saja di ujung kursi. Aku bingung sebenarnya kau tahu atau tidak caranya untuk berterima kasih. Hatiku ini selalu berusaha untuk tegar. Walau sebenarnya sudah berkali-kali kau tampar dengan segala sikap dinginmu. Ah, sial sekali rasanya. Bukankah setiap orang yang menyatakan cinta; setidaknya anggaplah keberada...

Tumbuh Bersama Luka

      Langkah kakiku kian melemah saat mengetahuimu sedang mengumandangkan rasa bersama dia. Kau mungkin tak akan pernah merasakan jerebu tebal yang timbul dikepala dan hatiku akibat kau bakar dengan api cemburu. Terbatuk-batuk dan sesak sekali rasanya. Haruskah aku menggunakan masker agar tak menghirup jerebuku sendiri? Kiranya akan tetap sama saja.                                                                            Waktu yang berbutar sangat cepat. Dan kini luka yang ku terima semakin banyak dan melekat. Oh, semesta ijinkan ku saja sebentar untuk berkeluh kesah. Agar sedikit berdamai dengan gelisah. Tak usah kau banggakan atas jeruji besi yang kau beri. Itu hanya penimbul perih dan jerit tagis tiada henti. Maaf jika sikapku ini terlalu hiperbola. Kau tahu kan roda motor ...